Rabu, 04 Maret 2015

Mengekang Kenang

ia, yang telah ditiadakan
memandang di kejauhan

burung-burung pulang
langit memar
gelap melesap menghisap sisa panas matari
(juga panas tubuhku)

ia tak mengenalku
tapi ia tengah mengenangku

dari tempat setengah kedap:
hanya ada lengang
gelap dan cahaya berbagi duduk

ia seperti melihatku berbaring di antara keduanya

lalu ia melihat iring-iringan jenazah berjalan di aspal cakrawala
(tiba-tiba aku seperti ditandu)
dan sebuah liang lahat
terbuka
di kedalaman matanya

pekat semakin bungkuk
ia tutup lubang itu:
sesuatu yang licin dan hangat
tergelincir dari sana

apakah ini mimpi
atau sesuatu yang seperti mimpi?

tidak. tidak. tidak.

ia melihat jam dinding berdetak tak bergeming
ia melihat semut-semut mengerubungi tumpah kopi
ia melihat dan tak melihat diriku

lalu tersenyum
seakan tahu apa yang ingin kukatakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar