ia, yang telah ditiadakan
memandang di kejauhan
burung-burung pulang
langit memar
gelap melesap menghisap sisa panas matari
(juga panas tubuhku)
ia tak mengenalku
tapi ia tengah mengenangku
dari tempat setengah kedap:
hanya ada lengang
gelap dan cahaya berbagi duduk
ia seperti melihatku berbaring di antara keduanya
lalu ia melihat iring-iringan jenazah berjalan di aspal cakrawala
(tiba-tiba aku seperti ditandu)
dan sebuah liang lahat
terbuka
di kedalaman matanya
pekat semakin bungkuk
ia tutup lubang itu:
sesuatu yang licin dan hangat
tergelincir dari sana
apakah ini mimpi
atau sesuatu yang seperti mimpi?
tidak. tidak. tidak.
ia melihat jam dinding berdetak tak bergeming
ia melihat semut-semut mengerubungi tumpah kopi
ia melihat dan tak melihat diriku
lalu tersenyum
seakan tahu apa yang ingin kukatakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar