Rabu, 25 Maret 2015

Sajak Terakhir Tentang Hujan

Meskipun aku bukan tak pernah berpaling dari janji,
janjiku kali ini boleh penuh kau percaya.

Aku masih bisa diajak bermain hujan.

Ya, di jalan raya yang digenangi bau selokan.
Di tempat-tempat parkir supermarket.
Di halaman-halaman kantor pemerintah.
Di lapangan sepakbola, di jembatan, di pasar,
di depan pabrik susu, atau di mana saja.

Tetapi, maafkan aku, sejak
hari ini aku tak mau lagi bermain hujan di dalam sajak.

Di dalam sajak, hujan melulu
dingin, kesedihan dan kenangan.

Sajak, entah aturan siapa, selalu
menutup mata pada banjir,
menutup telinga pada petir.

Inilah sajak terakhir
tentang hujan.

Tetapi jangan khawatir,
aku masih bisa diajak bermain hujan.



Minggu, 22 Maret 2015

Sore yang Aneh

Seringkali sore dihadirkan berbeda seperti ini.

Seperti sebuah lukisan tangan gemetar seseorang
yang buta warna sejak lahir—yang tak mampu
membedakan warna-warna waktu. Pagi dan sore
hari berbeda hanya laju benda-benda dan suaranya.

Kita harus menerimanya sebagai hadiah, Sayang.
Hadiah aneh yang mengingatkan kita tersenyum.

*

Seringkali sore dihadirkan berbeda seperti ini.

Seperti nyanyian seorang gadis tuli yang tak pernah
tahu suaranya parah. Dia bernyanyi dan tak peduli
nada dan selera telinga. Dia hanya ingin bernyanyi.

Seluruhnya adalah sajak yang sungguh indah, Sayang.
Sajak yang tidak lelah menginginkan kita jadi penyair.

*

Seringkali sore dihadirkan berbeda seperti ini.

Seperti dunia yang tidak mengenal hari libur:
malam Minggu atau kalender merah. Hanya
kelelahan para pekerja yang mencari rumah
dan kekasih pemilik dada lapang dan hangat.

Masa kanak kembali dari pintu semacam itu, Sayang.
Melunaskan rindu pada kepolosan dan kemanjaan kita.



Rabu, 04 Maret 2015

Mengekang Kenang

ia, yang telah ditiadakan
memandang di kejauhan

burung-burung pulang
langit memar
gelap melesap menghisap sisa panas matari
(juga panas tubuhku)

ia tak mengenalku
tapi ia tengah mengenangku

dari tempat setengah kedap:
hanya ada lengang
gelap dan cahaya berbagi duduk

ia seperti melihatku berbaring di antara keduanya

lalu ia melihat iring-iringan jenazah berjalan di aspal cakrawala
(tiba-tiba aku seperti ditandu)
dan sebuah liang lahat
terbuka
di kedalaman matanya

pekat semakin bungkuk
ia tutup lubang itu:
sesuatu yang licin dan hangat
tergelincir dari sana

apakah ini mimpi
atau sesuatu yang seperti mimpi?

tidak. tidak. tidak.

ia melihat jam dinding berdetak tak bergeming
ia melihat semut-semut mengerubungi tumpah kopi
ia melihat dan tak melihat diriku

lalu tersenyum
seakan tahu apa yang ingin kukatakan.


Selasa, 03 Maret 2015

Takziyah

orang-orang menunduk
pohon-pohon merunduk
kita sedang berdoa
kita yang berdosa

jenazah sudah dimandikan
sudah dibacakan Al-Qur’an
mendadak terasa:
siapa yang akan ditandu, selanjutnya

kita tak boleh terlampau takut
kepada maut
juga jangan terlalu berani
melawan mati

sebab kita hanya puisi
yang kelak pulang pada Penyairnya
membawa sunyi yang kita miliki
meninggalkan seluruh kata-kata